Monday, 17 July 2017

Wanita, Apa Tujuan Hidupmu?



Wanita adalah pembawa peradaban (R.A. Kartini). 

Setiap wanita begitu berharga dalam peran membawa pencerahan melalui
kelembutan, kasih sayang dan intelektual kepada generasi terlahir. 
Tugasmu banyak dan beragam. Sadarilah wanita! 
Panggillah nalurimu yang mempesona untuk terus bergerak pada karya tanpa batas nan bermanfaat! 
Stop bermanja-manja pada kenyamanan yang hanya meninabobokkan waktu produktifmu. 

Wanita, apa tujuan hidupmu? 

Kedudukankah yang engkau cari?

Wanita ibarat jasad yang dapat dilihat dengan mata zahir. 

Pria ibarat ruh yang hanya dapat dilihat dengan mata bathin.
Keduanya bersatu, jadilah makhluk yang disebut sebagai manusia.
Maka, memang idealnya pria yang memimpin wanita.
Ibarat sesuatu yang berasal dari dalam diri yang haqiqi, 
dengan semangat juang yang tinggi serta tekad yang bulat serta tulus 
akan dapat menggerakkan fisik dan merefleksikan pada tindakan yang 
rahmatan lil alamiin.
Bagaimana jika sebaliknya? Ia akan berontak, bertentangan dengan nurani, berdampak negatif pada dirinya. 
Itulah asal muasal malas dan galau serta menunda.
Maka, apabila keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam diri dapat kita jaga,
kedamaian diri dan semangat akan selalu terpancar. 
Sebab itulah sepasang suami istri hidup berdampingan,
tidaklah salah satunya yang di depan, tidak pula di belakang. 
Agar mereka saling mendukung satu sama lain, saling menghargai. 

Wanita, apa tujuan hidupmu?

Karirkah yang engkau cari? 

Diri kitalah yang tahu kapasitas dan kapabilitaa masing-masing. 

Benar adanya, jika wanita dituntut untuk mampu menjadi multitalenta.
Dalam konteks berkeluarga, peran wanita tak hanya sekedar melulu tentang dapur, tetapi juga meluas
dari urusan pribadinya, suami, anak-anak, keluarga besar, hingga bakti pada pertiwi serta agama. 

Jika diri saya ditanya tentang sebuah konsep masa depan berkeluarga,

Saya akan memilih hidup dengan pengabdian yang bermartabat. 
Maksudnya, sebagai wanita atau istri kelak, pengabdian terhadap suami dan keluarga adalah yang utama
dan saya percaya bahwa wanita yang punya karya tidak akan takut kehilangan karirnya. 
Wanita sekolah tinggi bukan untuk karir. 
Karir bukanlah satu-satunya cara untuk membuat harimu produktif.
Kecerdasan wanita adalah aset berharga bagi madrasah anak-anaknya kelak.
Dan juga bekal yang elegan untuk mendampingi suami.
Dengan bekal ilmu dan kreatifitas, maka kita bisa tetap berkarya tanpa merasa dibatasi oleh status maupun keadaan. 

Duh, sepertinya suatu hari nanti,

ketika sudah berhasil mendirikan  Rumah Sehat & Pesantren serta bekal petualangan yang berkualitas, 
mengurusi anak-anak di pesantren maupun universitas (almamater pertama) akan terasa mendamaikan. 

Apapun pilihan hidupmu, ingat kapasitas ya.. 

Yuk, pancarkan cahaya hatimu, hai wanita! 

#familyisno1 #nikahmudaitubaik #yuknikah #inspiring #woman

 #motivasi #perempuanpunyakarya #cahayailahi #baktiwanita
 #yuksekolahlagi #intelektual #spiritual #indonesia 


Thursday, 17 March 2016

Mereka Yang Lilahi Ta’ala


Anda pernah mendengar kalimat ini? “Kau bisa membayar guru untuk mengajarimu, tetapi kau tidak bisa membayar mereka untuk peduli.” (Marva Collins)

Di zaman yang semakin canggih ini, tentulah semakin banyak orang pintar di dunia ini. Lalu, pernahkah anda memperhatikan tentang berapa banyak mereka yang pintar dan peduli pada orang-orang disekitarnya dengan tulus ikhlas? Masih adakah orang seperti itu di dunia ini?

Alhamdulillaah masih dan banyak. Alhamdulillaah juga saya dipertemukan dengan mereka di sebuah komunitas bahasa, namanya Central Language Improvement (CLI) Ulil Albab. 

Lalu, siapakah mereka? Mereka adalah pemuda pemudi bangsa Indonesia yang berkuliah di kampus perjuangan alias kampus tertua di Indonesia bernama Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Dengan kemapuan berbahasa yang dimiliki, mereka sebagai para penggagas komunitas ini menawarkan lingkungan berbahasa yang dapat dijadikan sarana untuk memperlancar dan menguasai bahasa internasional, terutama bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Tanpa tanda jasa. Inilah julukan yang tepat untuk menggambarkan mereka yang sesungguhnya. Berbagi ilmu tanpa mengharapkan imbalan. Semua bimbingan ini diberikan kepada siapa saja mahasiswa UII yang ingin bergabung, setiap Jum’at dan Sabtu Malam ba’da Isya di Pelataran Auditorium Kahar Mudzakir. Para penggagas ini selalu mendorong seluruh anggota CLI untuk bisa mewujudkan mimpi para anggota CLI agar berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia di berbagai belahan dunia. Alhamdulillaah, lebih dari setengah jumlah anggota CLI telah mampu mewujudkannya.
Bagi saya, CLI layaknya tempat dimana kami menemukan keluarga seperjuangan yang satu visi,  tempat orang-orang yang positif thinking, memahami arti kebersamaan, belajar tanpa harus malu, bertanya sampai benar-benar terpahami, berbagi, memotivasi dan selalu termotivasi, terinspirasi dan menginspirasi.
         
CLI lahir sebagai wadah untuk berbagi dan bersinergi mewujudkan generasi muslim di Indonesia yang intelek dan tetap tawaddu’. Sungguh saya banyak belajar dari mereka pada masa-masa terakhir saya merantau di kota budaya tersebut. Semoga semakin banyak anak-anak Indonesia yang menorehkan manfaat bagi sesama, bagi bangsa dan agamanya. Rasa nasionalisme seperti inilah yang perlu kita refleksikan dalam kehidupan.
         
Ayo belajar dan mengajar!  Mengajar dengan niat yang lurus, mengajar dengan kata sabar. Belajar tanpa kenal lelah, belajar tanpa kenal usia. Allah selalu memberi pembelajaran pada  setiap proses kehidupan yang kita lalui. Everyone is a teacher, every place is a school.


                                  moment kebersamaan saya dengan beberapa diantara mereka



Salam Mayamoy ^^

Sunday, 10 January 2016

SEDIH


Siang hari, ketika aku hendak landing di Hang Nadim Batam. Aku memandangi jendelamu dengan rasa yang sama untuk dua hal yang berbeda. Pertama, aku merasa sedih karena baru saja resmi melebarkan jarak dengan sahabat-sahabat tercinta, meskipun kami tetap bisa berpegang erat dari kejauhan. Kedua, aku sedih karena melihat alam yang tak hijau seperti dulu. Biasanya, hamparan tanah orange dan hutan-hutan hijau masih kulihat ketika mengudara. Sekarang, awan sekitar pun menghitam, pohon-pohon pun berwarna hitam. Mereka layu dimakan panas. Mati satu per satu.
Batam memang jarang hujan. Banyak yang selalu mengeluh. Sadarkah, ini ulah manusia juga? Aku pernah membaca artikel yang kalau tidak salah berjudul Hujan Tidak Turun Karena Tidak Membayar Zakat. Mari kita mengkaji diri lagi. Mungkin saja ada hak-hak kepada sesama yang belum kita penuhi. Barangkali kita lupa. Semoga kita sebagai makhluk-Nya adalah makhluk yang taat akan perintah-Nya sesuai rukun islam yang ke-3. Semoga masyarakat Batam semakin madani. Bukan hanya sekedar slogan saja, tapi membenarkan keadaan yang sesungguhnya.
Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapapun, karena penulis sendiri juga masih belajar. Mari kita sama-sama belajar untuk terus berubah ke arah yang lebih baik. Belajar tak kenal usia dan tak kenal waktu.

Mari renungkan sebuah hadis riwayat dan beberapa firman Allah berikut:

H.R. Ibnu Majah
Rasulullah SAW bersabda, ….”dan tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali hujan akan ditahan dari langit dan andaikata bukan karena hewan ternak, niscaya hujan tidak akan pernah turun.”
  
Q.S. An Naml ayat 60
“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?”

Q.S. An nuur ayat 43 :
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

Q.S. Nuuh ayat 10-13 :
“Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?”

Salah satu cara memohon ampunan Allah adalah dengan memperbanyak istighfar. Keajaiban istighfar memang luar biasa. Aku sendiri merasakannya ketika Allah menyembuhkan rasa sakitku, hanya dengan istighfar. Sederhana bukan? Tak berbayar. InsyaAllah hujan pun akan lebih sering turun jika kita juga memperbanyak istighfar juga. Tak perlu bersusah payah untuk mengusahakan hujan buatan. Allah maha baik :)

_Salam Mayamoy_


Monday, 28 December 2015

Arti Amoy yang Sesungguhnya

Holla para pembaca sekalian, 
Saya ingin meluruskan makna sebuah kata "Amoy" yang juga sempat menjadi my blog title.
Kenapa Catatan Si Amoy?
Apa definisi Amoy yang sebenarnya?

Amoy adalah sebutan bagi anak gadis keturunan China yang belum menikah. 
Sama halnya seperti orang Batak memanggil anaknya dengan sebutan "butet",
begitu pula orang Sunda yang memanggil sebutan "neng".

Jadi, sesungguhnya Amoy tidak bermakna negatif. 
Kata ini berasal dari dialek "Khek" atau "Thio Chiu" yang tulisan sebenarnya adalah amoi namun banyak juga yang mengganti dengan huruf y dibelakangnya. Asal katanya adalah moi cai. 
Moi = perempuan dan Cai = anak. 

Memang banyak peristiwa di negeri ini yang menyababkan kata amoi mengalami penggeseran makna. Mereka yang tidak mengerti filosofinya pasti akan salah menafsirkan. 
Jadi, sekarang anda sudah tahu? Jangan salah kira lagi ya!

Lalu, kenapa blog title ini awalnya saya namakan catatan si Amoy? Memang Mayang Amoy?
Ya, Mayang memang keturunan China. Tepatnya ibu saya Chinese, tapi beliau ga bisa bahasa mandarin. Sedih, saya jadi ga bisa belajar Mandarin secara gratis. 

Kenapa juga setiap akhir postingan saya selalu bilang "Salam Mayamoy"?
Itu sebagai ciri khas aja. Dan rencana jangka panjangnya kata Mayamoy akan saya jadikan brand untuk produk saya nantinya. Produk apa? Tunggu aja tanggal launching-nya. 

Oiya, silakan bagi yang ingin tahu makna alamat blog ini, bisa baca lagi tulisan yang ini: 


Salam Mayamoy ^^

Sunday, 20 December 2015

Dibalik “SE”



Tulisan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, adik biologis saya satu-satunya, sahabat-sahabat saya tercinta di tanah rantau (Yogyakarta), serta orang-orang yang telah dan selalu mendo’akan kebaikan bagi saya.
Alhamdulillaah berkat rahmat dan karunia-Nya serta ridho dari orang tua, Mayang bisa menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah sebagai sarjana akuntansi dari UII.
Mungkin, bagi kebanyakan orang dapat dengan cepat dan mudah untuk menyelesaikan program sarjana. Yaps, jalan hidup orang memang berbeda-beda. Apapun dan bagaimanapun itu, percayalah Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Selalu bersyukur atas skenario-Nya, dapat menjadikan segudang energy positif untuk terus berusaha memperbaiki kualitas diri dalam menggapai mimpi.
Berbicara mengenai mimpi, dari kecil saya bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Tapi, Alhamdulillaah itu tidak terwujud. Hehe. Yaps. Allah maha tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya. Sedangkan saya, terlambat tahu bahwa saya takut dengan darah. Kalau saya memaksakan diri untuk menjadi dokter, mungkin bisa saja. Tetapi, pastilah saya menyiksa diri saya sendiri. Maka dari itu, teruntuk Almarhummah nenek (Latifah). Mayang minta maaf ga bisa jadi dokter (dr) buat keluarga. Tetapi, Mayang masih punya kesempatan untuk menjadi doktor (DR). Ya khaaan mbah? Hehe…
Kalau memngingat perjuangan mencari perguruan tinggi dulu, memang penuh lika liku. Selama masa SMA sudah mempersiapkan amunisi ini itu. Setiap hari, sudah harus siap untuk berangkat sekolah pukul 6.15, pulang sekolah pukul 14.00, lanjut pemantapan sampai sore, ba’da maghrib sampai pukul 21.00 bimbel buat nembus SNMPTN, sampai rumah lagi pukul 22.00. Oke sambil dibawa santai saja waktu itu selalu semangat untuk belajar bersama teman-teman seperjuangan. Jika kita senang menjalaninya, semua terasa nikmat.
Setelah lulus SMA, saya dan tiga teman saya (cewe semua) memutuskan untuk ke Jakarta selama satu bulan. Kami bimbel lagi, khusus buat nembus STAN.  Hari pertama di Bintaro, nangis-nangis. Karena, sedih jauh dari orang tua dan merasakan atmosfir kehidupan yang jauh berbeda daripada nyamannya hidup di rumah sendiri. Tapi, Alhamdulillaah selalu ketemu orang baik selama disana dan beberapa diantaranya masih bersilaturahim dengan baik sampai sekarang.
Selain bimbel, disana juga saya sempat melaksanakan test SNMPTN memperjuangkan UI dan Undip dengan pilihan studi FKM. Dan…. Hasilnya ngga lulus. Saya melihat pengumuman itu di rumah saat sudah kembali ke pangkuan orang tua, sudah balik ke Batam. Ingat banget waktu itu habis nge-mall bareng keluarga. Abis seneng-seneng, nyampe rumah buka laptop eehh nangis. Lalu, orang tua mencoba menghibur dengan menanyakan saya, bagaimana kalau diterima saja undangan kedokteran dari salah satu universitas di kota kami tinggal itu atau mau terima tawaran buat jadi pramugari? Eeeewwww… Haha.
Akhirnya, saya menjalankan plan C. Saya memutuskan untuk ke Yogjakarta untuk mencari universitas swasta sambil menunggu pengumuman USM STAN keluar. Lulus USM STAN adalah harapan terbesar saya kala itu. Prioritas utama dibanding lulus SNMPTN.
Saya bingung sampai di jogja, universitas swasta apa yang akan saya pilih. UII? Saya nggak tahu apa-apa soal UII. Saya tahunya itu adalah kampus si Mas sepupu jauh saya dan calon kampus sahabat saya. Memang ada beberapa kakak kelas saya juga disana. Tapi saya tak pernah mecari tahu lebih dalam sebelumnya tentang UII. Akhirnya, saya mencoba-coba test di UII, dan itu hari terakhir test karena 2 hari setelah itu MABA akan di OSPEK. Panjang lagi ceritanya, intinya saya lulus CBT S1 jurusan Ekonomi Islam. Akuntansinya? Penuh sudah. Lalu, saya dapat brosur D3 Akuntansinya, 2 tahun saja dan bisa lanjut S1 juga. Jadi, saya fikir sama saja. Ambil itu saja.
Disini, ada kekecewaan dan rasanya campur-campur juga. Sahabat-sahabat saya marah-marah. Kami yakin, kamu itu bisa lebih bla bla bla bla, kamu itu dari bla bla bla bla, terus kenapa cuma bla bla bla. Kan sayang, kalo bla bla bla. Hmmmm, memang hidup itu harus berani untuk memilih dan bertanggung jawab atas apa yang telah kita pilih.
Waktu itu, saya masih merasa yakin bahwa saya tidak akan lama kuliah di D3 FE UII dan segera pindah kampus ke STAN. Nyatanya, tidak. Hari itu saya kecewa besar. Perjuangan sudah maksimal, do’a sudah, restu orang tua sudah, semuanya sudah oke menurut saya. Tapi, Allah lebih tahu apa yang sebenarnya saya butuhkan. :)
UII banyak mengajarkan saya, menguatkan rasa cinta saya kepada-Nya, memberi ruang untuk saya bertemu pada mereka yang luar biasa. Kalau saya tidak melalui masa D3 di Jakal dulu dan langsung mengambil S1 akuntansi di Concat, saya ga akan ketemu sama keluarga AMADEA. Ga akan ada buku pertama saya, haha. Ini masa lalu ya. Sudah, buku jangan dibahas lagi. Dan jangan ada yang tanya saya lagi masalah royalty. Saya ngga sekomersil itu, dulu saya tulis itu dari hati. Tapi, duluuuulahh sekarang mah mikir yang lain. Secara orangnya udah nikah. Haha, selamat ya bang !
Ok fokus, perjuangan Mayang untuk bisa lanjut dari D3 ke S1 ngga serta merta mulus gitu aja. Walaupun, saya berhasil lulus dalam 1 tahun 9 bulan, itu butuh pengorbanan. Setahun sekali baru balik Batam, coy. Banyak hal juga yang harus diperbuat untuk semakin memajukan D3 kala itu.
Setelah wisuda D3 baru boleh transfer atau ekstensi ke S1. Alhamdulillaah Allah memberikan jalan untuk ini bisa terwujud. Ada cobaan lagi, yaitu saya masuk RS ketika sedang Pra UAS smester pertama di S1 atau setara dengan semester 4 kalau di hitung dari awal masuk UII. Sakit apa? Thypus. Biasa penyakit mahasiswa katanya, kecapekan, musim hujan, PP Jakal-Concat waktu itu masih kos di Jakal. Strong kan saya? Haha.
Banyak teman juga yang waktu itu sakit sama seperti saya. Tapi, mereka cepat sembuhnya. Saya lama, masa pemulihannya sampai setahun. Dua kali masuk RS dalam setahun, dan itu selalu pas lagi ujian. Saya sempat disuruh berhenti kuliah saat itu, sama orang tua saya. Mereka sayang sama saya, bukan mengajarkan saya malas belajar. Mereka cuma takut kehilangan saya. Mayang memang suka lupa diri kalo udah asyik belajar atau fokus ngerjain sesuatu, dulu saya malas makan nasi. Saya sadar kenapa saya diberi sakit sama Allah. Itu adalah akumulasi dari mendzholimi diri sendiri, ngetik sampai subuh, tidur ga teratur, makan juga tidak teratur. 
Sejak saya kecil sampai sebelum saya jatuh sakit, biasanya saya tidak pernah demam lebih dari 1 hari atau maksimal 2 hari. Kalau demam, minum obat dan vitamin serta istirahat, biasanya langsung sembuh. Tetapi, kali itu, berbeda. Demamnya kayak ngga demam. Pagi sampai siang sehat, sore sampai malam lemes ngga bisa ngapa-ngapain. Sampai ada suatu hari dimana bener-bener ga bisa ngapa-ngapain. Sujud aja rasanya lutut ini ga kuat. Mikir dikit aja, pusing. Padahal waktu itu banyak tugas besar yang harus diselesaikan, biasa kan mau UAS banyak deadline tugas. Bener-bener rasanya kayak ngga berguna lagi waktu itu. Ga bisa aktif reportase lagi, jalan-jalan, berkarya lagi.
Pernah juga, pada suatu subuh saya telfon orang tua saya. Waktu itu nafas aja ngga bisa pake hidung. Kirain waktu saya sebentar lagi, makanya langsung cari tiket dan pagi itu juga saya berangkat ke Batam. Alhamdulillaahnya, masih diberi kekuatan dan bisa sendirian nyampe airport di Batam. Memang, itu sejenis flu beratlah ditambah masih dalam kondisi masa pemulihan thypus tadi. Ketika sampai disana memang masih tersumbat si hidungnya, tapi ya udah bisa nafas lebih baik. Malamnya malah saya diajak ke pengajian sama orang tua. Saya heran, saya itu pulang niatnya langsung minta dibawa ke rumah sakit dan dirawat disana. Lah tiba-tiba nyampe Batam malah diajak ngaji. Bayangin ga? Saya sempet ngambek waktu itu. Hahaha. Lah, anaknya sakit bukannya dibawa ke dokter dulu. Malah suruh dzikir. Waktu itu kan saya masih selalu pakai logika pada umumnya.
Ternyata, subhanallah walhamdulillah walaa ila ha illallahu wallahu akbaru. Luar biasa. Saya yang biasanya kalau malam lemes, malam itu jadi sehat. Jadi, inilah yang dinamakan kekuatan do’a. Memang sudah sepantasnya manusia sadar, tubuh ini milik Allah. Jasad dan roh ini yang ngasih siapa? Mintalah kepada Dia langsung sang pemiliknya. Mudah bagi Allah untuk menyembuhkan apapun. Percayalah sepenuhnya pada Dia.
 Keesokan harinya, saya cek ke dokter, kata dokter ngga kenapa-napa. Dikasih obat flu aja sama vitamin. Sama dikasih resep-resep rahasia lainnya. Wejanganlah buat kesehatan secara psikologis juga. Karena ada hal terkait diagnosa sebelum-sebelumnya dari dokter yg berbeda yg bikin saya down. Tapi itu, ternyata tidak terbukti setelah sempat juga saya cek di sebuah RS di Malaysia.
Jadi, kepulangan ke Batam kali itu bisa jadi karena saya kangen berat sama orang tua. Hahaha buktinya sampai sana sembuh. Setelah itu saya pulang ke Jogja lagi untuk UAS dan balik ke Batam lagi untuk liburan. Saya dikasih dua pilihan, kuliahnya cuti dulu atau pindah ke Batam aja kuliahnya. “Lah kan kakak udah sembuh Pa, Ma.” Panjang cerita, sampai akhirnya saya tetap keras kepala mau kuliah sampai selesai dan janji bakal jaga kesehatan. Akhirnya saya diperbolehkan balik ke Jogja lagi buat nyeleseiin kuliah.
Penyakit ini memang biasa, tapi bisa jadi luar biasa kemana-mana kalau tidak dirawat agar sembuh total. Nah, yang bikin lama masa pemulihannya itu karena pikiran Mayang ini. Saya kalau memikirkan sesuatu pasti panjang kali lebar ga ada ujungnya. haha.
Sejak saat itu saya merubah cara berfikir jadi lebih santai dan berusaha ga keras kepala lagi. Kalau menginginkan sesuatu, udah ga terlalu ngotot sekarang. Dulu kan kalo pengen A ya A. Saya akan bekerja sekeras mungkin untuk bisa mewujudkan A dengan plan ABCD-Z. Sekarang, lebih realistis, sadar kapasitas dan jangan lupa untuk menyayangi diri sendiri juga. Lakukan yang sesuai passion. Ngga semua mua harus dituruti. Intinya, percaya bahwa Allah tahu yang terbaik buat kita. Apa yang menurut kita baik, belum tentu itu yang terbaik menurut Allah sesuai Q.S. Al-Baqarah 216. Sadar akan apa yang digariskan Allah ketika memberi saya kehidupan di dunia ini. Kita semua akan kembali pada-Nya. Jangan hanya sibuk mengejar ilmu dunia atau kekayaan, jangan lupa akhirat itu beneran ada loh. Bekalnya udah disiapin belum buat kesana, May? Memang udah cukup? Minta ketemu Allah kan kemarin-kemarin, tapi belum dipanggil kan? Kalo dipanggil udah siap belum?
Banyak hikmahnya pasca Mayang sakit. Semacem, semakin beruntung gitu. Alhamdulillaah, sekarang sehat terus. Apalagi sejak habis KKN di daerah Bruno, dekat dengan Wonosobo, tapi masih Purworejo laa. KKN bikin tangguh memang.
Subhanallaah, ini cara Allah mengajarkan saya. Menjawab setiap pertanyaan yang selalu terlantun dalam do’a, mempertemukan pada setiap jiwa yang membawa pelajaran berharga, belajar dari setiap kejadian apa saja yang telah dilakukan selama menjadi mahasiswa dan berproses menuju penemuan jati diri yang sesungguhnya. Suka terharu dengan skenario yang telah Allah rangkai sedemikian rupa.  
Yaudah ya, segitu dulu ceritanya. Panjang sih kalo mau diceritain lengkapnya ini aja udah 6 lembar A4. Hehehe. Selamat berjuang bagi yang masih memperjuangkan sarjana! Sudah saya jawab ya, kenapa Mayang bisa terbilang cepat lulusnya. Liat aja prosesnya, tak semudah yang kalian kira. Tapi, Allah selalu menguatkan dan memberi jalan untuk saya bisa berhasil lulus. Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin :)


 Salam Mayamoy ^^




Monday, 1 September 2014

Mencari Keberkahan Illahi



Aku rasa seluruh khalifah semesta ini cerdas.
Sadar akan nyatanya kefanaan kehadirannya di sini, tempat mereka berpijak.
Siapa yang berani menjamin usia? 
Siapa pula yang berani menjanjikan surga selain Dia?
Dia, Sang Maha.

Lalu, pasca mengetahui tentang-Nya, masih beranikah mendustakan amanah? 
Sebagai khalifah di bumi-Nya.
Masih pantaskah untuk memohon rahmatnya?
Setelah semua nikmat yang disyukuri ternoda dengan cara-cara yang tak seharusnya.

Bagaimana mungkin si khalifah masih mengharapkan janji-Nya, sementara peran selalu dimainkan sebagai antagonis. 

Lingkungan akan tetap seperti itu. Jangan ikut-ikut menjadi antagonis ataupun mencoba menjadi figurannya.
Tidak juga harus menjadi protagonis yang terlalu idealis.

Ini bukanlah larangan ataupun saran.
Ini hanya tentang bagaimana jalan keluar untuk sampai di ridho-Nya. 
Jalan yang masih tanda tanya besar. Sanggupkah?

Thursday, 28 August 2014

Meluruskan Arti Sebuah Komitmen

Heiho para pembaca, akika baru muncul lagi nih. Udah hampir setahun yaa ga posting.  Kangen yaa? 
Aha.... Kangen si uda biasa yah. Apalagi bagi penganut LDR.

M: Masih zaman kan skrg LDR? 
K:  Masih may, tapi skrg ada yg lebih keren may daripada LDR dan SDR. 
M: Apaan tuh? 
K:  Komitmen.


Nah bingungkan kalo ada orang yang berkata demikian. Emang LDR ama SDR kagak pake komitmen? 
Dan sekarang, banyak pasangan yang mendeklarasikan untuk berkomitmen daripada berpacaran. Katanya, lebih elegan gitu dan lebih menjanjikan. Aku pernah baca tulisan yang konon begini bunyinya :

''komitmen itu jauh lebih penting daripada tampang, tanggung jawab itu lebih keren daripada mapan''.

Sebenarnya kutipan tersebut membawa pesan sederhana yang bermaksud untuk menyadarkan seseorang dalam memilih pasangan. Yaa bolehlah. 
Akan tetapi, hati-hati dengan syarat dan ketentuan berlakunya. Waspadai penipuan. Sekarang ini banyak yang mengatasnamakan komitmen demi menutupi ikan di seberang pulau. (Baca: selingkuhan atau stok lainnya)

Jadi, kini kata komitmen sudah mulai ternodai pemirsa. 
Ini bukan salah kata mengandung, tapi salah niat yang terlahir. 
Seediiiih pemirsa.

Faktanya, pengingkaran ini terjadi bukan hanya di kalangan pasangan muda, tapi juga bagi pengemban jabatan struktural. Eh ehh eiiitss…. ini beda lagi ceritanya, ini komitmen tentang amanah. Okee, mari fokus untuk memahami arti komitmen yang sesungguhnya






Apabila anda sudah mulai menjalani proses komitmen, maka kepercayaan, transparansi, dan komunikasi yang berkesinambungan adalah fasilitator penting demi merealisasikan tujuan dari janji suci selanjutnya. Dalam sebuah hubungan yang berkualitas, tentu komitmen itu sangat berharga. Ibarat janji yang tak pantas untuk diingkari. Satu kata bermakna sakral yang tak patut untuk disepelekan. Sebaiknya jangan terburu-buru untuk menggunakan kata ini untuk mempertaruhkan reputasi anda. Karena reputasi adalah salah satu aset berharga dalam hidup anda yang tak ternilai harganya.



Salam Mayamoy ^.^

Monday, 28 October 2013

Move On... Move dari ke-oon-an



Heiho bloggers.... Dengan baru munculnya postingan ini pada tanggal sekian dan bulan sekian, maka resmi proyek ngeblog bulanan gagal. Yasuteralah, sekarang ngeblog sesuai keinginan saja. Gausah pake deadline dulu. Tapi, move on harus pake deadline kali yaa? Daripada gagal terus? Hahaaaha...

Move on itu apa sih sebenarnya?
Secara harfiah, move on itu artinya bergerak. Tapi, menurut kamus anak muda masa kini, move on adalah melupakan mantan. Maksud kata mantan disini ga Cuma mantan pacar, bisa juga mantan calon pacar alias mantan gebetan. Tipe kasus yang kedua ini lebih berat loh, susah dilupainnya. Karena sesungguhnya kenangan bersama MANTAN GEBETAN itu jauh lebih berwarna dibandingkan kenangan bersama mantan pacar. *tsaaaah..   emang sebenernya pacar itu apa? Sejenis tumbuhan kan yah? Pacar air.... hmmm bisa jadi bisa jadi.. lalu gebetan itu apa? Temennya bantal guling kah? Bukan, gebetan itu yang suka bikin rindu.

Oke ngaco... Tapi ngaco adalah proses transitasi ke-oon-an menuju kecerdasan. Berawal dari kekacauan akibat kontraversi hati lah muncul kiriman kata-kata puitis ini dari seseorang, Sebut saja namanya Mr.Zzz



Kebelet cinta
Dikuasai lamunan halusinasi dan ribuan seandainya
Mengenaskan
Bangunlah sebelum waktu semakin menenggelamkan kesadaranmu
Bintang tidak Cuma satu
Bahkan matahari pun berbilang
Dengarkan kicau burung yang menghinggapimu
Jangan berharap pada kicauan semu yang tak tampak kepakannya


Puisi diatas sedikit menyadarkanku. Terima kasih Mr.Zzz, akan tetapi saya kurang setuju dengan baris pertama puisi diatas. Kalau kebelat cinta dari dulu ga jomblo-jomblo kali yaa. Terima yang ini, putus, terima yang lain, putus, nyambung, cari lagi putus lagi, dapet baru lagi, putus lagi deeh. Karena kebelet cinta ga pake mikir panjang, right? Dan itu sumber masalah besar yakan? Karena akibat kebelet cinta, akan menghasilkan banyak mantan. 

Anda kira itu prestasi? Selamat!  Banyak mantan melambangkan betapa tidak becusnya membina hubungan. Dan siap-siap ranah kebahagiaan anda dihantui mantan-mantan. *uupppsss…. Tidak baik begitu, May! Mantan adalah sahabat sejati yang tertunda. Mihihiiiii… tertunda atau tergantung atau tergagal? Ohooo, jangan begitu, May! Harusnya tetap bersikap biasa saja dan berteman baik. Itu baru dewasa, May!  

Ini tema tentang move on, tapi kok jadinya bahas mantan sih? ----> bukankah tiada kata move on tanpa muncul kata mantan? Emm….Nggak juga sih yaa -___-

Actually,  inti dari move on adalah dengan menjawab pertanyaan ini.




Jawab dalam hatimu, katakan! Katakan dengan nama Tuhanmu!

Mengapa mengingat mantan gebetan itu perlu?
Mengapa lebih banyak mengingat dia dibanding mengingat Tuhan?
Dia siapa? Kamu siapa? Tuhan siapa?
Tidakkah kau menyesal menggunakan memorimu untuk hal sia-sia?
Berapa banyak mereka yang kecewa?
Kecewa karena ke-oon-an mu?
Mau sampai kapan dibodohi?
Masih ada waktu remediasi diri.
Ikhlaslah!

Semua berubah menurut prosesnya, termasuk kita. Kedepannya kita akan menjadi manusia yg lebih baik, aku yakin. Apakah kita bakal dipertemukan kembali? Itu rahasia Tuhan.

‘‘Saat tersulit adalah melepas orang yang kita sayang ketika kita benar-benar menyayanginya, tapi saat itu juga kita belajar arti kata ikhlas.“

Mungkin Tuhan mempertemukan kita untuk belajar, bagaimana rasanya kehilangan orang yang benar-benar kita sayang. Ini cara Tuhan mendidik, agar kita menjadi manusia yang lebih tegar dan ikhlas.

Salam Mayamoy ^^